Ciri-Ciri Kesombongan
December 30th, 2005 by adepoenya
|
|||||||
|
|
|||||||
|
DI TINGGI PUNCAK GUNUNG
SUNYINYA DINDING DINDING KABUT
DINGINNYA MALAM MENUSUK TULANG
DENGAN MATA YANG AMAT LETIH
DENGAN BAHU YANG AMAT LESU
DENGAN KAKI YANG AMAT LETIH
KULANGKAHKAN
SELANGKAH DEMI SELANGKAH
KU TEGARKAN HATI
KUPASRAHKAN DIRI DEMI
MECAPAI PUNCAK TERTINGGI
MAHAMERU……….MAHAMERU…………….OH MAHAMERU
By: dedek
Menghitung mundur waktu yang ada
Membuat jiwa ini resah
Terhempas raga ini
Bagai kapal tanpa arah
Terdayung ombak ditengah hening malam
Jiwa ini terkoyak tanpa rasa sakit
Hanya perih terasa dengan sekelumit cerita hati kesedihan
Resapi apa yang terjadi
Menanti keadaan yang sebenarnya tiada
Mencoba mengapai cerita bahagia yang tak nyata
Mencoba menghirup udara cinta yang tiada
Perjalanan sunyi ini terasa panjang
perputaran waktu itu terasa lamban
Imajinasi ku tak bergulir
Merangkai puisi kehidupan sepi ini
Raut kepedihan menyelimuti jantungku
Berdetak tak berdetak
Berhenti tak berhenti
Hidupku ini hanya karangan cerita
Hidupku ini hanya sebuah perjalanan naskah
Tak bersuara, Tak bergema, Tak berirama
Biru membisu dan runtuh
HIDUP INI HANYA SEBUAH KARANGAN CERITA
**************************************
Semoga Allah Yang Maha Menatap, Yang Mengurus diri kita setiap saat. Benar-benar menyadarkan kita, bahwa hidup di dunia ini hanya mampir, hidup di dunia hanya sebentar. Semoga Alloh meyakinkan kita, bahwa akheratlah tempat yang kekal. Sebaik - baik tujuan, sebaik - baik cita – cita, yakni sesuatu yang kekal. Bagaimana mungkin, kita menggadaikan yang kekal, dengan sesuatu yang akan sirna.
“Keajaiban yang sangat mengherankan terhadap orang yang lari dari apa yang sangat dibutuhkan, dan tidak dapat lepas daripadanya. Dan berusaha mencari apa yang tidak akan kekal padanya. Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tetapi yang buta ialah mata hati yang ada di dalam dada.” (Kitab Al Hikam, Syekh Ahmad Ataillah)
Saudaraku yang baik. Kita sering prihatin, kasihan, kepada orang yang matanya tidak melihat. Padahal tidak melihat dunia, bukan masalah besar. Masalah besar itu ketika hati yang buta. Apa hati yang buta ? yakni orang yang tidak bisa melihat kebenaran.
Salah satu ciri hati yang buta yaitu tidak bisa membedakan mana yang kekal, dan mana yang akan sirna. Kebutaan hati akan membuat seseorang tidak mengenal Alloh. Yang dikenal hanyalah dunia. Sehingga, orang yang mata hatinya buta, dia lebih sibuk mencari duniawi dibanding kedudukan di sisi Alloh.
Lihatlah para pecinta dunia. Mereka rela berkelahi satu sama lain dengan menggadaikan waktu, pikiran, tenaga, hanya demi memburu dunia yang pasti ia tinggalkan.
Sekaya apapun seseorang, tetap akan meninggalkan apa yang ia miliki. Istana, kekayaan, kedudukan, semuanya akan ia tinggalkan. Para pecinta dunia, mereka tidak bisa melihat sesuatu yang lebih indah, lebih besar, lebih agung, selain daripada hiruk pikuk duniawi.
Al Qur’an menyiratkan, “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah” (QS. Faathir 35 : 5). Jadi kalau kita terlalu terkesima oleh dunia, berarti kita telah siap tertipu. Lalu, apakah dunia harus kita acuhkan ? oh..tentu tidak, karena dunia ini merupakan ladang kita beramal.
Semakin cinta kepada dunia, akan semakin takut kehilangan. Namun, jika kita mencintai akherat dengan bekal dunia, kita tidak akan takut kehilangan. Nah…, orang-orang yang buta hatinya, mereka takut kehilangan dunia, namun tidak takut kehilangan kedudukan di sisi Alloh. Wallahu a’lam (mikha)
|